1. Bulaksumur Blok D.7

    Dari beberapa hari yang lalu, sepertinya ada yang memanggil-manggil saya untuk datang atau sekedar lewat di daerah komplek perumahan dosen UGM yang berada dikawasan Bulaksumur, terutama di kawasan blok D. Tapi entah kenapa saya tak kunjung kesana sekedar lewat dan berhenti sejenak untuk menyapa para penghuni yang masih betah bertempat tinggal disana atau sekedar menikmati kenangan yang pernah ada di kawasan tersebut, terutama di rumah yang bercat putih dan bernomor 7.

    Dari semalam, panggilan itu semakin kuat. Dan akhirnya tadi siang saya putuskan untuk melewati kawasan tersebut. Tapi alangkah terkejutnya saya ketika melewati rumah yang pernah kami –saya dan kawan-kawan relawan DERU UGM– tempati. Rumah yang tadinya sedikit tidak terawat tiba-tiba diurus. Rumput liar yang sudah meninggi dipotong habis, pohon-pohon yang sudah gondrong sekarang terlihat rapi dan beberapa tempat bahkan dibongkar. Saya sedikit heran dan bertanya-tanya, ada apakah gerangan..

    Hmmmm.. Oh iya, saya lupa, rumah putih dan beberapa rumah yang berada disebelahnya akan dijadikan museum UGM. Entah museum apa.

    Sebenarnya saya ingin berhenti sebentar dan menyapa kawan-kawan yang masih tertinggal disana. Tapi niat itu saya unrungkan karena saya tidak mau dicap gila karena tiba-tiba masuk kedalam rumah yang sedang di ‘make over’ hanya untuk mengoceh dan berbicara ‘sendiri’.

    Saya tadi sempat melihat mbak yang suka sekali berada di halaman samping rumah sebelah utara, dia terlihat sedih dan merana, seperti ingin berteriak meminta pertolongan agar rumahnya kembali dikembalikan seperti semula, tidak diusik, walaupun itu untuk di perbaiki. Saya kemudian ingat dengan om-om berbadan besar yang menjaga pohon mangga, saya juga ingat anak kecil yang suka berlarian di dalam rumah, saya jamaah shalat ashar yang waktu itu membetulkan bacaan imam dan mengaminkan surah Al-Fatihah, ah, saya teringat semuanya.

    Apa kabar mereka? Mereka baik-baik saja kan ya?? Besok saya sepertinya harus benar-benar mampir.

     
  2. Tak usah banyak cincong, dengan begitu hidup kita akan sedikit damai.
    — Sang Musafir
     
  3. I’ll taste the devil’s tears..
    Drink from his soul but I’ll never give up you..
    I’ll taste the devil’s tears..
    Drink from his soul but I’ll never give up you..

    [Angus and Julia Stone - The Devil’s Tears]

     
  4. plays: 1

    Pasti ku bisa melanjutkannya
    Pasti ku bisa menerima dan melanjutkannya
    Ooh pasti ku bisa menyembuhkannya
    Cepat bangkit dan berfikir
    Semua tak berakhir disini

     

    [Pasti Ku Bisa - Sheila on 7]

     
  5. Man in Uniform [episode: Tragedi Mawar Putih]

    Kejadian ini sebenarnya sudah terjadi bertahun-tahun lalu. Empat tahun yang lalu lebih tepatnya. Sudah lama memang, tapi saya masih bisa mengingat kegilaan yang kami lakukan disalah satu ‘kandang’ Pria-Pria Berseragam itu.

    *

    Waktu itu, beberapa hari setelah kejadian yang cukup menghebohkan dunia ke AU-an Indonesia. Saya dan dua orang teman saya dengan penuh kesadaran menuju salah satu lokasi yang bisa dipastikan akan ada penampakan mereka. Sebut saja lokasi itu Museum Dirgantara yang berada di Yogyakarta.

    Kami bertiga sepakat untuk mengenakan warna hitam sebagai dress code hari itu, sekaligus menampakkan kalau kami ikut berduka atas tragedi kecelakaan pesawat yang menewaskan beberapa orang perwira Angkatan Udara Republik Indonesia. Tak lupa kami membawa selembar puisi duka cita dan sebatang mawar putih.

    Dengan penuh percaya diri, berangkatlah kami bertiga menuju lokasi tujuan menggunakan bis jalur tujuh yang entah kenapa berwarna biru. Sayang sekali begitu sampai di portal penjagaan, kami dihadang dan dilarang masuk lebih jauh. Alasannya simple, karena waktu itu bertepatan dengan salah satu perayaan agama dan kebetulan pura yang berada tepat di sebelah museum sedang ramai dipadati oleh pengunjung yang ingin beribadah.

    Setelah melewati sedikit perdebatan absurd, akhirnya kami memutuskan untuk meninggalkan puisi dan sebatang mawar putih yang diikat menggunakan karet rambut berwarna hitam di portal penjagaan. Mas-mas yang kebetulan sedang berjaga sempat heran dengan ‘bingkisan’ yang kami tinggalkan. Mungkin dia takut kalau ternyata ada ‘zat’ berbahaya yang kami campurkan pada bingkisan yang membuat shock tersebut.

    Sampai hari ini, saya terkadang masih suka membayangkan apa yang terjadi dengan bingkisan yang kami tinggalkan di portal empat tahun yang lalu. Apakah puisi dan mawar putih itu berujung di tempat sampah? Atau malah berpindah dari satu tangan ke tangan yang lainnya sampai kertas putihnya berubah menjadi lecek dan kecoklatan? Atau mungkin saya diselamatkan salah seorang diantara mereka dan kemudian memberikan bunga beserta puisinya kepada kekasih hatinya? Atau bisa saja puisi dan bunga yang kami berikan tadi berakhir menjadi bahan olok-olokan sepanjang masa? 

     
  6. Man in Uniform [episode: Fashion or Function]

    Sore tadi, saya dan salah seorang sahabat ­-partner in crime- saya, menghabiskan waktu disalah satu café bersuasana tenang dan teduh dikawasan Deresan. Lalu entah bagaimana mulanya kami terlibat obrolan yang seru mengenai perlindungan terhadap saksi kejahatan. Lalu entah bagaiman pula akhirnya obrolan yang pada awalnya serius malah menyerempet kemasalah PBB alias Pria-Pria Berseragam [re: polisi dan tentara].

    Dari dulu saya punya sebuah pertanyaan besar yang sampai sekarang belum pernah saya temukan jawabannya, yaitu: kenapa sebagian besar perempuan-perempuan berseragam putih [re: mahasiswa keperawatan dan kebidanan] berebut ingin menjadi pacar Pria-Pria Berseragam tersebut?

    Lalu tiba-tiba teman saya nyeletuk: “itu masalah fashion”. Hmmm.. Fashion? Benar juga. Mereka, para Pria-Pria Berseragam itu memang terlihat sangat menarik dan eye catching dalam balutan seragam yang biasanya press body tersebut. Apalagi tidak semua orang bisa dengan mudahnya diterima dan kemudian menjalankan pendidikan yang berat untuk bisa menjadi salah satu dari mereka. Fisik yang sempurna, jiwa yang sehat dan mental yang sekuat baja menjadi salah satu syarat mutlak yang harus dimiliki sebelum mendaftar disalah satu sekolah atau akademi yang nantinya akan meluluskan mereka menjadi Pria-Pria Berseragam. Hal ini tentunya semakin menambah nilai ‘jual’ dan meningkatkan gengsi siapa saja yang berjalan bersama mereka.

    Tapi lebih dari itu, sebenarnya menjalin hubungan spesial dengan Pria-Pria Berseragam memiliki berbagai keuntungan. Pertama, adanya rasa aman dari gangguan orang-orang yang berniat jahat. Ya, kecuali kalau ternyata yang si Pria-Pria Berseragam itu sendiri yang ingin berbuat jahat dan bukannya melindungi malah mencelakakan, itu beda lagi urusannya. Kedua, menjadi lebih sadar hukum. Pastinya akan sangat malu ketika melakukan kesalahan ketika menjadi kekasih seorang penegak hukum. Ketiga, bangga. Walaupun nggak semua orang, tapi setidaknya lebih banyak yang merasa bangga jalan dan menjalin hubungan special dengan orang-orang pilihan yang salah satu kewajibannya melindungi Negara dan masyarakat banyak.

    Jadi, sebenarnya ini masalah fashion atau function

     

    Fashion or Function 

  7. Dibanding koleksi kartu pos saya yang lainnya, kartu pos ini bisa dibilang tidak ada apa-apanya. Apalagi kartu pos ini saya dapatkan secara cuma-cuma dari aplikasi Touch Note ketika paralympic -olimpiade yang di design khusus untuk atlet-atlet dengan kemampuan yang terbatas atau atlet penyandang cacat-. 

Tapi disanalah nilai lebihnya. Saya merasa diberi ‘kekuatan’ ketika melihat gambar ini. Kekurangan yang dimiliki bukan penghalang untuk meraih mimpi. Gambar di Kartu pos ini selalu sukses ‘menampar’ saya ketika saya sedang jatuh dan terpuruk. Saya diingatkan untuk tidak gampang menyerah dan putus asa. Saya harus terus berlari. Dan saya pasti akan terus berlari mengejar mimpi. 

    Dibanding koleksi kartu pos saya yang lainnya, kartu pos ini bisa dibilang tidak ada apa-apanya. Apalagi kartu pos ini saya dapatkan secara cuma-cuma dari aplikasi Touch Note ketika paralympic -olimpiade yang di design khusus untuk atlet-atlet dengan kemampuan yang terbatas atau atlet penyandang cacat-. 

    Tapi disanalah nilai lebihnya. Saya merasa diberi ‘kekuatan’ ketika melihat gambar ini. Kekurangan yang dimiliki bukan penghalang untuk meraih mimpi. Gambar di Kartu pos ini selalu sukses ‘menampar’ saya ketika saya sedang jatuh dan terpuruk. Saya diingatkan untuk tidak gampang menyerah dan putus asa. Saya harus terus berlari. Dan saya pasti akan terus berlari mengejar mimpi. 

     
  8. Hujan [2]

    Semalam akhirnya hujan turun membasahi bumi yang sudah sangat rindu akan tetesnya. Deras. Tapi kenapa kamu tak kunjung memberi ku kabar? Rinduku akan hujan sudah terobati. Tapi kenapa rinduku akan kamu masih harus ku tahan? Kamu kemana? Hujan sudah turun lagi. Membasahi tanah dan menyirami benih-benih yang layu. Kalau lama-lama begini, yang ada kelopak rinduku yang akan melayu dan berguguran.

     
  9. Hujan

    Kembali kulongokan kepalaku ke luar jendela. Entah sudah berapa musim hujan tidak pernah turun dikota ku ini. Padahal kota ini terkenal dengan banjir yang tak pernah absen menyambanginya. Ah, aku rindu hujan. Sama seperti aku merindukan mu. Aroma tanah basah yang menguap ketika hujan turun selalu membuatku bersemangat. Seperti bau tubuhmu yang sukses membikin hatiku bergejolak. Rintik hujan yang melebat membuatku selalu terkenang akan obrolan-obrolan kita yang tak pernah habis.

    Aku rindu kamu, aku rindu hujan. Harus berapa lama lagi aku menunggu hujan turun agar aku bisa bertemu dan memulai kembali obrolan bersamamu? Bagaimana kalau hujan tak kunjung turun? Harus ku kemanakan rinduku?

    Ah, semakin aku merindukan hujan, semakin aku merindukan kamu.