raison d’être

Your blog's tagline here

21 Aug

Akhirnya aku menemukanmu
Saat ku bergelut dengan waktu
Beruntung aku menemukanmu
Jangan pemah berhenti memilikiku

Hingga Ujung Waktu - SoS

  • Tagged:
  • Noted: 0 notes
  • Reblogged:
21 Aug

Tadi sore saya belajar mata kuliah Metode Penelitian Kuantitatif. Dosen yang mengajar tadi cukup asik. Angka-angka serta software penghitungan terlihat lebih ramah dan bersahabat. Disela-sela pelajaran yang beliau terangkan, beliau tak lupa menyisipkan joke dan cerita-cerita ringan namun sarat akan makna yang bisa diambil.

Dari sekian banyak cerita dan joke yang beliau lontarkan, saya merasa sedikit tersentil ketika beliau mengatakan: Bahasa tesis, bahasa jurnal, bahasa skripsi, bahasa ilmiah itu beda sama bahasa sastra. Kalau penulis disuruh bikin tulisan ilmiah, bisa-bisa makin pusing yang baca. Satu parangraf panjang bisa terdiri dari satu kalimat, sampai-sampai yang baca bukannya mengerti malah jadi pusing. Kalau yang terbiasa menulis ilmiah bikin latar belakang sepuluh halaman, kalau penulis bisa bikin latar belakang sampai tiga puluh halaman.

Saya jadi ingat bertahun lalu ketika masih berkutat dengan skripsi. Salah satu dosen penguji saya bilang: mbak, skripsi kamu ini bisa dijadiin cerita loh. Kamu kan suka nulis, kenapa nggak dicoba aja ubah skripsi ini jadi novel. Bagus loh, jarang ada mahasiswa kebijakan publik nulis novel kearifan lokal, saduran dari skripsi.

Mungkin kalau Ibu dosen tadi sore membaca skripsi saya, beliau akan langsung bilang: Nah ini nih, salah satu contoh tulisan ilmiah rasa sastra. 

19 Aug

Ada sesuatu yang menarikku untuk singgah ke toko buku yang berada di sudut jalan teduh itu. Sesuatu yang ku beri nama kenangan. Dan kenangan itu pulalah yang menarik ku masuk kedalam dan berhenti begitu saja di depan sebuah rak yang memajang buku-buku import berisikan gambar rumah-rumah nan indah. 

‘Kamu suka rumah itu?’ tanyamu mengejutkanku. ‘Nanti aku bikinkan satu. Ditepi danau, seperti maumu, nanti aku tambahkan kursi kayu di teras, biar kamu bisa menikmati bukumu’.

Aku segera menolehkan kepalaku ke kiri. Kosong. Ah, padahal suaramu begitu ditelingaku . Ah, aku lupa. Kamu sudah tidak ada. Tapi kenapa aku masih sering mendengar suaramu berbisik pelan kepadaku? 

image

19 Aug raison d’être turned 4 today!

raison d’être turned 4 today!

15 Aug

Saya melewatkan lebih dari tiga kesempatan di bulan Maret. Satu kesempatan full scholarship dari salah satu universitas di Indonesia di bidang dan jurusan yang benar-benar saya cintai, dan satu kesempatan full scholarship dari satu universitas yang punya program di dua negara berbeda. Saya juga membiarkan satu kesempatan kerja dari salah satu departemen pada tes terakhir. Saya melewatkan… ah sudahlah. 

Saya gila. Tapi ketika itu saya punya prioritas yang lain. Hasilnya? Entahlah. Semoga terlihat dalam waktu dekat. Karena saya percaya ada hal besar lainnya di balik hal besar yang dikorbankan

  • Tagged:
  • Noted: 1 note
  • Reblogged:
15 Aug
You can be anything you want to be.
But can you be everything you want to be?

Grant Snider 

  • Tagged:
  • Noted: 0 notes
  • Reblogged:
14 Aug

Marriage [/ˈmarɪdʒ]: The legally or formally recognized union of a man and a woman (or, in some jurisdictions, two people of the same sex) as partners in a relationship.

Jadi ceritanya, beberapa hari yang lalu saya menyebar sebuah pertanyaan ‘kenapa harus menikah?’ Dan berikut ini adalah jawaban yang dikirimkan oleh beberapa orang teman saya:

  1. Kita sebagai cewe mungkin bisa merencanakan kehidupan buat kerja/S2. Tapi itu kan cuma buat jangka pendek, ga nyampai 5 tahun ke depan. Kalau karir bagus alhamdulillah.. Tapi setelah itu kita mau apa? Mungkin kita bisa nabung, nyicil rumah, beli mobil, ngumrohin ortu dll dgn hasil kerja kita krn kita masih sendiri. Tapi tanyakan pada diri sendiri, yakin mau hidup sendiri selamanya? Dan lagi, cewe katanya punya masa expired tentang kesuburan, teman aku bilang di atas umur 27 bakal susah buat cewe buat nyari jodoh. Klo aku sendiri emang ngakui butuh cowok, buat penentu masa depanku mau aku habisin dimana. Mungkin aku bisa kerja di Jakarta, tapi ga selamanya. Aku ga pengen nggedein anak disana. misalnya aku udah ketemu jodoh, kan aku ada bayangan mau dibawa kemana hidupku nanti. Misal calon suami kerja di Samarinda, berarti aku udah harus siap-siap ikut kesana, mungkin cari kerja disana juga. Kalau aku ga nikah, hidupku akan habis di kerjaan doang. Saat teman-temanku ngabisin long weekend sama keluarga kecilnya, paling pol aku cuma bisa ngunjungi ortu, mungkin ditanya tentang pernikahan juga sama keluarga. Sebagai orang yang suka ngobrol, aku bakal tetep butuh satu teman hidup yang stay selamanya buat talk about anything, nuntasin masalah bareng-bareng, saling support, dll.
  2. Aku juga ga pengen hidupku hampa tanpa cinta.
  3. Lebih ke butuh partner hidup sih kalau aku.
  4. Nikah buat bikin anak.
  5. Buat nyenengin ortu. kalo anak perempuan ngga nikah-nikah, nanti mereka kepikiran.
  6. Nanti kalo kamu udah ketemu orang yang tepat, pasti kamu berpikiran bwt nikah sama dia karena ingin bersama dia selamanya.
  7. Nikah itu enak.
  8. Karena itu sunnah para rasul. Untuk menjaga diri dari fitnah juga. Kan fitrahnya manusia punya nafsu syahwat, dan itu harus disalurkan ke yang halal untuk mencegah kerusakan. Udah sunnatullah kerusakan akan muncul kalau manusia menempuh jalan yang haram instead of jalan yang halal udah disediakan.

Yang mau berpendapat bisa mention saya di @thismelina.  

image

  • Tagged:
  • Noted: 3 notes
  • Reblogged:
13 Aug
  • Tagged:
  • Noted: 0 notes
  • Reblogged:
13 Aug

Ada tiga jenis bencana alam di dunia ini menurut Mohhammer H.I Dore dan David Edkin, yaitu:
1. Bencana alam yg bersifat hidrometereologi yang menyebabkan terlibatnya banyak orang, seperti banjir, kekeringan, angin topan.
2. Bencana alam yg bersifat geofisik, sepdrti gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor serta gelombang.
3. Bencana alam lainnya, seperti wabah penyakit, hama, kelaparan dll.

Cara pandang suatu masyarakat terhadap alam dan masalah ekologis juga mempengaruhi pembentukan ilmu pengetahuan dan budaya dalam menghadapi bencana.

Kosmologi masyarakat, kepercayaan terhadap mitos-mitos alam yang dipercayai dan diwariskan dari generasi ke generasi adalah dua dari sekian banyak faktor dibalik pemaknaan dan respon bencana.

Ada satu yang menarik dalam buku Amartya Sen. Di dalam bukunya yang berjudul ‘the idea of justice’. Amartya Sen menekankan bahwa di negara yang demokratis tidak mungkin terjadi bencana kekeringan dan kelaparan. Argumen Amartya Sen ini didasari dengan asumsi bahwa dengan adanya demokrasi yang baik maka akan terjadi komunikasi masyarakat-pemerintah yang baik pula, sehingga bencana kekeringan dan kelaparan tidak mungkin terjadi.