raison d’être

Your blog's tagline here

25 Jul
  • Tagged:
  • Noted: 0 notes
  • Reblogged:
25 Jul
Life is really simple, but we insist on making it complicated.

Confucius 

  • Tagged:
  • Noted: 1 note
  • Reblogged:
25 Jul
Only you can control your future.

Dr. Seuss 

  • Tagged:
  • Noted: 0 notes
  • Reblogged:
25 Jul
  • Tagged:
  • Noted: 0 notes
  • Reblogged:
25 Jul

Beberapa hari yang lalu saya menjadi baby sitter untuk dua orang adik sepupu saya yang dari dulu sudah cukup dekat dengan saya. Kami pun menghabiskan hari dengan bermain games online, memborong beberapa komik di toko buku, berkunjung ke barber shop dan membeli beberapa loyang pizza. Kebetulan yang membawa mobil dan menyupiri kami adalah Om saya, bapak dari kedua sepupu kecil saya. Sepanjang perjalanan saya dan om membahas berbagai macam hal, mulai dari suhu udara yang panas menyengat, kemacetan yang sudah menjadi wajar di kota Padang, hingga situasi politik Indonesia yang semakin memanas. Kemudian tiba-tiba saja ada sebuah mobil angkutan kota dengan musik jedagjedug menyalip mobil yang kami tumpangi. Kontan Om saya merem mendadak dan bertanya apakah saya dan adik-adik tidak apa-apa.

Setelah memastikan keadaan baik-baik saja, Om saya berkata: Nyetir mobil itu sama kayak hidup Kak. Nggak tiap hari kita bisa merasakan kejadian seperti tadi, makanya harus sering-sering bawa mobil, biar bisa menghadapi situasi tak terduga seperti tadi. Hidup juga kayak gitu Kak, masalah datang silih berganti, jangan mengeluh, tapi jadikan pelajaran, nggak semua orang beruntung bisa mendapatkan ujian dari Allah SWT.

Saya seperti tertampar. Belakangan saya sering sekali merasa down dan berniat menyerah ditengah jalan ketika menghadapi masalah yang mungkin bagi sebagian orang cukup ringan. Saya salut dengan Om saya ini, ditengah masalah yang menimpanya, beliau masih bisa tersenyum dan tertawa, beliau masih bisa menasehati saya dan mengajarkan saya pelajaran hidup yang mungkin bagi anak seumuran saya masih belum terpikirkan sama sekali. 

23 Jul

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…
Seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu…
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…
Seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..

Aku Ingin - SDD

18 Jul

Kau datang dan pergi oh begitu saja
Semua kutrima apa adanya
Mata terpejam dan hati menggumam
Di ruang rindu kita bertemu

Ruang Rindu - Letto

  • Tagged:
  • Noted: 0 notes
  • Reblogged:
18 Jul

Tadi sore salah seorang sepupu saya menelpon dan ketika saya tanya ada apa, dia segera mengatakan ingin berbicara dengan Ibu saya. Sayapun memberikan telpon kepada Ibu yang kebetulan berada tidak jauh dari saya. Beberapa menit berlalu dan obrolan itu pun berakhir. Lalu saya bertanya, ada apa sepupu saya menelpon Ibu? [FYI, sepupu saya ini anak dari adik perempuan Ayah]. Lalu Ibu bercerita kalau si sepupu saya ini, yang kebetulan umurnya tidak jauh beda dengan saya, ingin melanjutkan S2 di UNP –salah satu kampus negeri di kota Padang, dan meminta tolong kepada Ibu agar Ibu mau menelponkan Mami –kakak tertua Ibu yang merupakan seorang professor dan dosen yang cukup disegani di UNP– memberitahukan kalau dia besok akan mengikuti seleksi untuk S2 disana. Saya sudah bisa menduga kemana arah pembicaraan tersebut. Dengan sedikit tidak berotak dan tidak berpikir dahulu, saya langsung nyeletuk: ‘Enak banget jadi dia, udah dulu TOEFL minta tolong sama Ani [adik saya satu-satunya], sekarang S2 minta dilulusin sama mami. Ani dibayar nggak sih dulu waktu ngerjain TOEFLnya?’ Ibu cuma tersenyum simpul dan bilang: ‘Nggak tau dibayar berapa kayaknya Ani nggak dibayar, dulu sih katanya mau ntraktir makan, tapi itu juga belum jadi sampai sekarang’. Saya pun langsung bertanya kepada adik saya mengenai tes TOEFL yang pernah di kerjakannya dahulu. Adik saya bercerita kalau score yang diperoleh lebih dari 500 dan dia tidak mendapatkan apa-apa. Saya kemudian bilang, kenapa mau? Kalau score TOEFLnya segitu, paling tidak dia bisa mendapatkan bayaran minimal 500 ribu [jangan tanya kenapa saya bisa tau ini].

Menjelang berbuka puasa, ketika saya sedang menyiapkan minuman untuk berbuka puasa, Ibu bilang kalau tadi Ibu cerita kepada Ayah tentang omongan saya yang bilang enak banget jadi dia, udah TOEFL dikerjain sama Ani, sekarang S2 juga minta dilulusin sama mami. Lalu saya bertanya, apa tanggapan Ayah. Ibu bilang Ayah cuma tertawa mendengar cerita Ibu mengenai kesewotan saya. Saya tau, Ayah pasti maklum. Dari dulu saya memang terkenal ceplas-ceplos dan suka ngomong seenak mulut tanpa mikir terlebih dahulu. Dan dari dulu saya juga terkenal tidak akur dengan sepupu saya yang ini. Ada banyak hal yang membuat kami bersaing. Mulai dari nilai raport, nilai nem, sekolah, universitas hingga pacar. Saya ingat, dulu, ketika saya masih memiliki pacar, dia pernah berkata: ‘Lin, itu foto siapa di facebook? Nanti aku bilangin sama Ayah loh, Ayah bisa marah loh kalau tau kamu pacaran.’ Dengan sadisnya saya jawab: ‘Bilangin aja. Nggak apa-apa. Bokap gw kan enggak kayak bokap lw yang ngelarang anaknya pacaran. Lagian Ayah juga udah kenal, udah sering kerumah.’ 

Saya memang sadis ya? 

  • Tagged:
  • Noted: 0 notes
  • Reblogged:
18 Jul

Surat Untuk (mantan) Ibu Dosen Tercinta

Dear Ibu Dosen ‘tercinta’..

Saya percaya kalau Ibu memiliki tingkat intelegensia diatas rata-rata. Kalau tidak, bagaimana mungkin Ibu bisa lulus dengan predikat ‘cum laude’ dari salah satu universitas yang berada di negeri kangguru tepat waktu. Ah saya salah. Ralat. Maksudnya lebih cepat dibanding dengan teman-teman satu angkatan Ibu ketika menempuh pendidikan doktoral. Saya juga semakin yakin kalau Ibu memang pintar, terbukti dengan kemampuan Ibu untuk mengajar S1 di jurusan yang berbeda dengan latar belakang pendidikan S1 yang dulu Ibu tempuh. Hebat bukan? Bahkan Ibu bisa menjadi pembimbing skripsi dengan topik yang menurut hemat saya tidak pernah Ibu pelajari selama menjadi mahasiswa tingkat sarjana.

Tapi saya tidak yakin kalau Ibu dulunya mendapatkan pendidikan budi pekerti yang cukup. Kenapa saya bilang begini, karena kalau Ibu mendapatkan pendidikan budi pekerti yang cukup, saya yakin Ibu mungkin tidak akan menuai sumpah serapah dari mahasiswa yang Ibu didik. Saya curiga, jangan-jangan dulu Ibu tidak pernah diajari bagaimana cara memperlakukan orang lain. Jangan-jangan Ibu tidak pernah belajar bagaimana cara menghargai orang lain. Jangan-jangan Ibu tidak pernah belajar mengenai diksi atau pemilihan kata dan intonasi yang tepat ketika berbicara. Oh, maaf, saya lupa, Ibu kan tamatan Ostrali, disana bahasa utamanya bahasa Inggris, bukan bahasa Indonesia, jadi maklumlah kalau diksi yang Ibu pilih amat sangat menusuk hati.

Ibu tau nggak kalau kata-kata bisa membunuh? Ibu nggak percaya? Ibu sungguh keterlaluan. Padahal saya sudah berhasil Ibu bunuh dengan kata-kata yang Ibu lontarkan. Saya salah satu korban kata-kata Ibu. Saya sudah mati Bu. Saya benar-benar tidak sanggup untuk berdiri lagi setelah Ibu jatuhkan dengan kata-kata Ibu. Saya kehilangan jiwa Bu. Ibu mencabut jiwa saya seperti petani yang mencabut gulma yang menyemak sampai keakar. Ibu berhasil membuat saya membenci apa yang saya cintai. Ibu berhasil mengobati kegilaan saya terhadap hal ini. Ibu berhasil membuat saya kehilangan nafsu untuk bermain-main dengan apa yang (dulu) menjadi hidup saya. Dengan beberapa kalimat Ibu berhasil memaksa saya untuk melupakan semua mimpi saya.

Lidah memang tidak bertulang Bu. Semoga korban-korban yang sudah berjatuhan dan yang akan berjatuhan tidak ada yang berniat jelek terhadap Ibu.

Salam,
(ex) Mahasiswa

  • Tagged:
  • Noted: 1 note
  • Reblogged: